Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2013

JULIA


            “Berhentilah menyusahkan hidupku, Julia Wu!” bibiku meneriakiku.
Kata-kata itulah yang terakhir kudengar saat aku beranjak meninggalkan lantai dua, menuju kamarku: sekubus bangunan berukuran 4x4 m yang bertengger di atap datar dari bangunan ini. Satu-satu kakiku menapak anak-anak tangga.
Tersisa sesak, sakit hati, kecewa, menyesal dan beribu penjelasan yang kuurungkan untuk kuberikan pada bibiku yang kusayang. Lahir batin aku merasa gagal. Gagal menyayangi siapapun yang kusayang. Aku tertatih terluka membawakan nyawa, namun mereka berkata ‘hanya’. Meski tercabik setengah mati, aku tak pernah bisa menyalahkan seorangpun. Satu-satunya yang paling mudah untuk kulakukan adalah menyalahkan dan menyesali keberadaanku sendiri. Aku sayang, tapi sayangku membawa sakit. Aku punya penjelasan, tapi tak bisa kuungkapkan.
Semua perasaan yang menyesaki dadaku menyiratkan sinyal pada syaraf-syaraf menuju ke otak. Gundukan putih di kepalaku mengomando kelenjar air mataku untuk beraktifitas secara tiba-tiba. Tapi akal sehatku menolak.
Nanti saja.
Nanti sajalah saat aku sudah berada di kamar mungilku, saat itu aku boleh menangis tanpa ada yang menyadarinya.
Semakin kupercepat langkah karena kelenjar air mataku juga beraktifitas secara agresif dan radikal. Ya Tuhan, bahkan tubuhku sendiri juga menghukumku.
Aku telah sampai di anak tangga terakhir saat tetes air mata pertamaku di ujung mata. Sekuat hati aku menahannya. Sebab dia berdiri disana. Di bawah bintang malam, seorang buronan polisi berdiri  menyedihkan. Lelaki pincang yang memakai krek di sisi kanan tubuhnya. Memandangku dengan iba.
“Gege…” ratapku menanggapi kehadirannya.
Tak terbayang olehku, bagaimana seorang buronan pincang bisa sampai di atap datar yang terletak di atas lantai 3 sebuah gedung di pemukiman padat penduduk? Sungguh, Kakak lelakiku ini penuh perjuangan.
“Bibi memarahimu, Julia?”
Dengan keterpaksaan, aku menyunggingkan senyum lebar menampakkan gigiku. Tak sampai hati aku membebani satu lagi orang yang kusayang dengan cerita penuh rengek manja dari seseorang yang menahan kesedihan dan kekecewaan. Aku beranjak dewasa.
“Nggak papa ge, Cuma telat pulang … lihat! Jam delapan malam aku masih pakai seragam.” Kataku membuka lengan. Memperlihatkan seragam identitas SMA ku yang penuh keringat.
“Memangnya hanya sekali ini kamu telat? Enggak kan? Ada apa, Ju? Aku susah payah kembali kemari bukan untuk kau bohongi.”
Air mataku terbentuk di sudutnya tiba-tiba.
Kata-kata Gege yang menyalahkanku karena telah membohonginya terasa sangat menyakitkan. Aku berbohong bukan untuk menyakitinya, tapi justru menjaga perasaan hatinya, tapi sekali lagi, hal yang kulakukan tak bisa diterima orang yang kusayang.
Perasaanku tersayat lagi.
Aku tak bisa menahan apapun lebih lama lagi. Aku mulai terisak ….
Menunduk di depan Gege. Aku tak sanggup memandang wajahnya. Kututup wajah menangisku dengan kedua tanganku. Aku begitu tenggelam dalam tangis saat aku merasakan kedua lengan Gege memeluk tubuhku, menjatuhkan krek di sisi kanan tubuhnya, tak peduli dengan cacat kakinya.
“Menangislah, Ju … menangislah adikku sayang … saat aku tak disini, kau pasti telah mengalami banyak hal.”
Tangisku semakin menjadi dalam pelukannya. Seakan gege tahu segalanya. Seakan ia menyelami lautan perasaanku yang meluas secara signifikan dengan mendalam. Aku telah mengalami banyak hal. Aku mengalami banyak hal. Banyak sekali hal-hal yang kualami.
“Gege …” ratapku dalam pelukannya.
“Iya, Ju …” jawab Gege.
“Kris Gege …” ratapku memanggil nama Gege.
“Menangislah sebanyak yang kau mau. Gege disini, Ju” jawab Gege lagi.
Tempo isakan tangisku meninggi. Bahu terguncang. Air mata yang mengalir hangat, tak ada yang mulai mendingin. Alirannya menderas tiba-tiba.
Dan aku masih belum bersuara.
Aku tenggelam dalam ratapan.
Meratap sebuah kisah tentang Kris Wu dan Julia Wu. Setahun yang lalu masih hidup damai dengan kedua orang tua mereka. Namun malam itu datang tanpa ada yang meramalkan sebelumnya, Kris dan Julia diyatim-piatukan oleh sebuah kecelakaan pesawat yang membawa mereka pulang dari Guangzhou usai merayakan imlek bersama keluarga Ibu mereka yang notabene orang asli Tiong Hoa.
Mulai hari itu kisah hidup mereka berubah. Tinggal bersama saudara ayah mereka. Orang asli  Madura. Dan tragisnya, keluarga yang tak merelakan pernikahan kedua orang tuanya, sehingga secara otomatis, tak satupun dari mereka yang merelakan keberadaan Kris dan Julia. Dua anak ini hidup di dunia asing dengan makhluk yang sama sekali tak bersahabat. Kris dan Julia bertahan dengan cara yang menakjubkan. Disaat mereka dipandang dengan penuh kebencian, mereka membalasnya dengan perlakuan penuh cinta. Satu-satunya cara hidup yang diajarkan pada mereka semenjak kecil adalah hidup dengan menebar cinta.
Namun hati yang dilingkupi benci itu terasing dengan sentuhan cinta. Sama sekali tak tergetar dan tergerak disuguhi sikap penuh sayang. Justru semakin timbul spekulasi buruk dan memunafikkan dua anak tak berdosa itu.
Suatu malam, paman mereka pulang dalam keadaan mabuk. Julia merasa lapar dan membuat sedikit keributan di dapur. namun sedikit keributan itu menjadi petaka besar. Julia dimarahi, dibentak, diteriaki bahkan dipukuli. Saat Kris datang membela, pamannya justru semakin menjadi. Menyiksa Julia dan mengibaskan tangannya menghalangi perlindungan Kris. Lalu ketidaksengajaan itu terjadi. Kris memukul wajah pamannya dengan terpaksa. Pamannya yang sedang mabuk sempoyongan ke belakang. Kepalanya menghantam pucuk meja dan berakibat fatal.
Keributan malam itu berakhir menyedihkan. Paman Julia kehilangan nyawa, Kris kehilangan kebebasannya dan menjadi buronan. Sedangkan Julia, kehilangan satu-satunya pelindung hidupnya: Kris. Kris yang setelahnya hidup serabutan.
Dan malam ini adalah kedua kalinya Kris kembali ke rumah itu semenjak ia kehilangan kebebasannya. Kedatangannya yang pertama, kakinya masih sehat. Secara diam-diam memanjat bangunan hingga sampai ke kamar Julia. Ia datang dengan riang. Menguatkan seorang Julia yang secara fisik semakin kurus. Dan secara mental semakin tertekan.
“Hush … semakin malam, jangan keras-keras manangisnya, nanti ada yang dengar…” kata Gege.
Aku diam. Mengusap mata dengan sebelah tangan. Sedang sebelahnya lagi menopang tubuh Gege. Lalu aku menuntun gegeku untuk duduk di kursi panjang lima langkah di depan pintu kamar.
“Apa yang terjadi dengan kakimu, Ge?”
“Kecelakaan kecil. Dua hari yang lalu. Jangan khawatir. Aku bertemu seorang dokter cantik dan baik hati. Dokter itu yang merawat lukaku ini. Katanya tak akan lama hingga aku bisa berjalan normal.” Kata Gege dengan senyum manisnya.
“Bagaimana gege bisa memanjat sampai ke sini dengan kaki pincang?”
“Siapa bilang aku memanjat?”
“Lalu?”
“Aku terbang.” Kata Gege syarat senyuman.
“Aku rindu gege …” kataku sambil melingkarkan lenganku ke pinggang gege.
“Berceritalah Julia. Apa saja yang ada di pikiranmu, katakanlah …”
“Aku tak tahu, Gege …”
“Hm?”
“Aku tak tahu aku ini orang macam apa.”
“Julia baik dan penyayang.” Gege tersenyum.
“Tapi aku hanya bisa mengecewakan orang yang kusayang.”
“Julia, kamu nggak pernah mengecewakanku.”
Aku terdiam. Mau menangis lagi.
“Aku mengenalmu sebagai seseorang yang punya konsep kebahagiaan sederhana. Bahagia saat yang lain bahagia.”
Aku memandang Gege.
“Berceritalah lagi, Ju, aku ingin mendengarmu …” lanjut Gege.
Aku menengadah. Memandang taburan titik titik bintang pada lembaran langit hitam.
“Gege, manusia itu bermacam-macam jenis ya? Mereka masing masing punya cara hidup berbeda-beda. Juga punya bentuk kebahagiaan yang berbeda-beda.”
“Kau bertemu masalah karena hal itu?”
Aku mengangguk.
“Aku melakukan suatu hal untuk melukiskan senyum di wajah seseorang. Tapi apa yang kulakukan juga menoreh luka di hati seseorang yang lain.”
Hening.
“Keputusan yang kuambil tak pernah bisa memuaskan semua pihak.” Sambungku.
Gege melingkarkan lengannya ke pundakku. Aku merasa tenang. Kepala beratku bisa tersandar ke bahu yang benar.
“Juga, aku melakukan banyak hal dan tidak melakukan banyak demi kebahagiaan orang-orang di sekitarku. Tapi hanya sedikit yang pada kahirnya merasa bahagia karena itu. Seringkali yang aku dapatkan justru kekecewaan yang menorah luka.” Ratapku.
Aku memandang gege untuk menanyakan satu hal.
“Gege, haruskah aku melewati beribu prahara dan mendapat ratusan luka untuk dapat merasakan setitik bahagia?”
Aku merasa aku ingin menangis lagi setelah menanyakannya.
Tapi Gege hanya tersenyum dengan memasang wajah setenang air danau di malam hari.
 “Jangan menyerah saat kau gagal melukis senyum puas di wajah orang-orang yang kau sayang. Akan ada waktu dimana mereka akan menyadari usaha kerasmu membahagiakan mereka. Ratusan luka yang kau dapat sebelum setitik kebahagiaan justru merupakan suatu hal yang membuat kebahagiaan kecilmu itu menjadi semakin besar dan tak ternilai harganya. Julia … ingatlah satu hal. Tak perlu kamu berharap balasan kebaikan ketika membaiki orang lain. Berharaplah hanya pada Yang-Kuasa, bukan pada manusia… Dia yang memeberi luka, Dia yang menghapus luka, Dia yang memberi bahagia, Dia juga yang bisa mencabutnya. Serahkan segalanya pada Yang-Kuasa. Tak akan ada yang perlu kau risaukan.” Gege berkata-kata tanpa cela.
Malam itu, di atas balkon, tepat dibawah kemerlap bintang, aku yang sehari-hari bersikap hemat kata menjadi begitu cerewet. Banyak hal yang mau kuceritakan pada Gege akhirnya. Dengan masih memakai seragam, aku tenggelam dalam percakapan yang melegakanku lahir dan batin.
Hari ini adalah salah satu hari terberat dalam hidupku. Mendapat dampratan di pagi hari dari orang-orang rumah, sikap tak bersahabat dari beberapa teman di sekolah, kena marah dari pemilik toko tempatku bekerja part time, dan kembali ke rumah dengan lelah dan tanpa sengaja menabrak pot mahal hingga pecah. Sekali lagi dampratan dari orang rumah. Dan berbagai peristiwa lain yang menyayat hati dan perasaanku. Membumbui kelamnya hariku.
Di saat aku mengalami berbagai hal buruk itulah, di ujungnya, aku punya Gege yang menempuh perjalanan sulit untuk sekedar memelukku. Memberiku kekuatan, memaksaku bercerita berbagi kekecewaan…
Di tengah segala kesakitan dan luka dalam kisah hidupku, aku bersyukur pada Yang-Kuasa untuk memberiku malam ini …
Namun dalam keremangan malam, tak ada satupun dari kami yang menyadari keberadaan orang lain di ujung tangga. Tak lama ia berada di sana. Tubuh besarnya menuruni tangga tanpa suara. Menuju ke lantai tiga, tepat dibawah kamar-atap ku. Tepatnya, menuju sebuah gagang telepon di sudut ruangan. Ia mengangkat gagangnya. Memencet beberapa tombol sambil membaca angka di buku telepon.
Hening. Lalu….
“Halo, kantor polisi?”
Dan orang itu kemudian berbicara tanpa sedikitpun rasa iba.


Selasa, 22 Juni 2010

KURMA MESIR

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
La ilaha illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar
Wa lillahilham

Takbir telah menggema ke seluruh penjuru kota. Kian benderang dengan lampu-lampu hias, kian ramai dengan langkah-langkah kaki dan deru kendaraan, kian ceria dengan tawa dan canda. Malam Idul fitri telah tiba. Momen paling istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Malam ini malam yang syahdu. Syahdu bersenandung tasbih semerdu suara tahmid, sejernih lautan tahlil, seindah alunan takbir.
Terasa nyaman sekali aku tidur teriring gema takbir. Merdu sekali... tapi tiba-tiba kemerduan berubah menjadi menakutkan saat suara takbir berganti menjadi jerit kemarahan Ummi.
“Elli!!!! Bangun!!! Ini malam hari raya! Bukannya bantu-bantu atau kemana gitu malah tidur kamu itu! Ayo bangun! Itu temani masmu beli kurma!”
Ah... malas sekali rasanya. Kuabaikan teriakan ummi dan merapatkan selimut. Ternyata, itu memancing kemarahan Abi.
“Eh, ayo bangun! Bangun! Abi ambilkan air kamu nanti!”
Seketika aku menyibak selimut dan segera terduduk.
“Ampun bi! Ampun... iya, iya Elli bangun bi!”
“Cepet! Itu masmu udah nunggu lo El!”
Aku nyelonong ke kamar mandi untuk cuci muka dan kembali ke kamar untuk membalut wajahku dengan balutan jilbab baruku. Uh, cantik juga aku pakai jilbab baru. Lama aku bergaya di depan kaca. Masku terheran di depan pintu...
“Kamu ngapain sih dek? Udah, nggak usah ngaca lagi, kamu udah cantik kok!”
“Hwehehehe... cantik ya?”
“Iya iya, udah cepetan! Mas masih banyak kerjaan lain setelah beli kurma!”
“Iya masku sayang... mas sih, pulang dari Mesir nggak sekalian bawa kurma! Jadi kita nggak perlu beli kurma lagi!”
“Bilang aja kamu nggak perlu bangun buat nemenin mas!”
“Ya.. itu juga sih alasannya... Hwehehehe...”
“Ye... ya udah, ayo berangkat!”
“Ayo!”
Meski sudah dibasuh dengan air, mataku tetap saja berat dan ingin dipejamkan. Diatas motorpun rasanya aku ingin tidur. Kusandarkan saja kepalaku di punggung mas.
“Eh, dek! Jangan tidur! Nanti kalo kamu jatoh aku tinggal lo!”
“Tinggal aja! Aku hafal jalan pulang kok! Lagian, kalau mas mau ninggal aku, siapa yang nunjukin tokonya? Emang mas udah tau? Udah 5 thun mas di Mesir, mana tahu jalan-jalan yang usah berubah!”
“Eh, iya! Hehehe...”
Takbir menggema di mana-mana. Tidak hanya di masjid, tapi tak sedikit pula yang melakukan takbir keliling. Ada rombongan yang berjalan kaki, ada pula yang bertakbir di atas mobil pick up. Suasananya semakin meramaikan kota.
“Dek, ini belok kiri apa kanan?”
“kanan!”
Masku membelokkan motor ke arah kanan. Dan beberapa meter kemudian, sampailah kami di toko kurma terbesar di kota ini. Masku langsung memesan 5 kotak kurma Mesir. Setelah membayar pada kasir, kami langsung keluar. Aku hanya mengekor saja di belakang masku. Ah... Ngantuk rasanya!
“Ayo dek!”
“Iya... cepetan kak, aku mau tidur lagi!”
“Nggak boleh, habis ini kamu harus bantuin mas natain ruang tamu sama natain kue-kue lebaran!”
“Huuh...”
Sampai di depan pintu toko, mataku berhadapan dengan stasiun. Lalu, kulihat sosok yang aku kenal.
“Bu Ima?”
“Hah? Bu Ima siapa? Mana?” tanya masku heran.
“Itu! Di stasiun! Yang berdiri! Dia tetangganya temenku!” jawabku.
“Hah? Ngapain malam-malam kaya’ gini di stasiun. Apa sedang nunggu kerabatnya?”
“Dia pasti nunggu anaknya yang pulang dari Mesir.”jawabku lagi.
“Mesir? Siapa namanya? Mungkin mas kenal!”
“Nggak mungkin! Anaknya udah meninggal 5 tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat. Tepat saat mau pulang ke Indonesia.”
“Heh? Terus ibu itu?”
“Ibu Ima tidak bisa menerima kenyataan. Dia tidak pernah mempercayai bahwa anaknya udah meninggal dan... setiap malam Idul Fitri, ibu Ima selalu nunggu di stasiun... kasian... penantiannya hanyalah penantian yang sia-sia...”
“Jadi, selama 5 tahun ini, Ibu Ima selalu bersedih karena penantiannya sia-sia? Padahal seluruh umat muslim yang lain bergembira...”
“Ya.. gimana lagi?”
“Ng... nama anaknya siapa?”
“Zaky! Napa?”
Masku malah tersenyum dan tiba-tiba melangkah, tapi anehnya tidak menuju motor. Tetapi malah menyeberang jalan. Aku heran dibuatnya.
“Mas! Mau kemana?”
“Berbagi bahagia!” jawabnya yang membuat tambah misterius saja.
Aku mengikutinya. Ternyata masku berjalan ke arah stasiun dan menghampiri Bu Ima. Masku mulai berbicara dengan bu Ima.
“Assalamu’alaikum bu, maaf saya Doni bu, temennya Zaky di Mesir. Saya baru pulang dari Mesir, bu. Apakah ibu ini benar Ibu Ima? Ibunda Zaky?”
“M... Benar nak, ada apa? Apa ada kabar dari Zaky? Ibu dari tadi menunggunya disini, tapi kok dia tidak pulang-pulang... Ah, Zaky memang anak yang kurang ajar, awas nanti kalau pulang akan Ibu pukuli dia!”
“Ah, jangan bu! Jangan dipukul si Zaky, tolong maafkan dia bu. Saya kesini membawa pesan dari Zaky, katanya Lebaran ini, Zaky masih belum bisa pulang. Dan Zaky ingin, saya menyampaikan permohonan maaf Zaky pada Ibu. Dan Zaky titip pesan pada saya.”
Ibu Ima menghela nafas. Aku jadi bingung dengan bualan masku. Maunya apa sih ni anak? Pakai bo’ong segala... Cari muka ni? aku sikut tangannya, tapi dia malah menyuruhku diam. Uh! Sebel! Tapi... terlepas dari itu, aku melihat perubahan di raut wajah bu Ima. Dia tampak berbinar-binar.
“Benarkah nak? Sudah lama Zaky tidak memberi kabar... pesan apa gerangan yang ingin di sampaikan pada Ibu nak Doni?”
“M... Zaky dengar kabar dari para kerabat kalau setiap malam Idul Fitri, Ibu selalu menunggu Zaky di sini. Zaky jadi iba, padahal belum tentu Zaky bisa pulang. Zaky memikul banyak tanggung jawab bu... jadi, Zaky meminta kepada saya agar menyampaikan pada ibu, bahwa Ibu tidak usah lagi menunggu Zaky di stasiun saat malam Idul Fitri.. dan..”
Masku mengambil 2 kotak kurma Mesir yang tadi kami beli. Lalu masku membual lagi.
“Zaky menitipkan ini pada saya...” katanya sambil memberikan kurma itu pada bu Ima.
“Apa ini nak?” Tanya bu Ima.
“Itu kurma Mesir bu... Zaky telah membelinya dengan hasil keringatnya sendiri, dan dipersembahkan untuk ibu...”
Hah??? Aku heran sendiri. Ada apa dengan masku? Itu kan kurma kita? Kok dikasihin sama bu Ima sih? Aku injak saja kakinya. Tapi lagi-lagi dia menyuruhku diam. Aku cemberut dan bu Ima menangis.
“Nak... hiks, baru kali ini... hiks, Zaky membelikan Ibu kurma Mesir... hiks!”
“Ya... Zaky itu anak yang baik bu, sebaiknya sekarang Ibu pulang dan mempersiapkan untuk hari raya besok. Semoga saja, Zaky bisa cepat pulang ya bu... saya pulang dulu... Assalamu’alaikum...” kata masku.
Lalu masku melangkah pergi. Aku menguntit di belakangnya. Beberapa langkah, bu Ima memanggil dan berteriak.
“Nak! Terimakasih! Tolong sampaikan pada Zaky, Ibu menyayanginya!”
Masku mengangguk dan tersenyum. Aku melipat tangan dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Lalu masku melanjutkan langkah kembali ke toko. Aku mengejarnya. Begitu sampai di depan pintu toko. Aku menghentikan langkah masku.
“Mas! Mas ngapain sih tadi? Cari muka?”
“Mas hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan bu Ima! Kamu liat kan, tadi bu Ima jadi seneng?”
“Iya, bu Ima emang seneng, bahkan aku nggak pernah liat bu Ima seseneng itu. Tapi... kenapa mas musti menyembunyikan kebenaran?”
“Yang diinginkan bu Ima bukan kebenaran, tapi harapan! Mas tidak ingin melihat ibu Ima selalu menunggu anaknya setiap malam idul fitri. Dan.. mas pikir tidak ada yang bisa melarang bu Ima selain Zaky, makanya mas bo’ong sama bu Ima dengan mengatakan kalau larangan itu adalah pesan dari Zaky...”
“Terus... kurmanya?”Protesku.
“kan mas udah bilang, mas mau berbagi kebahagiaan. Kamu liat kan, hanya dengan 2 kotak kurma, bu Ima jadi girang!”
“Kurmanya kan jadi tinggal 3!” aku protes lagi.
“Ya sekarang mas mau beli lagi 2!” Kata masku.
“Huuh! Dasar pembual! Semua yang mas katakan tak lebih dari bualan!” olokku pada masku.
“Dan satu-satunya kebenaran yang mas katakan adalah, mas baru pulang dari Mesir!”
“Hwahahahah” kami berdua tertawa.
Kami masuk kembali ke toko dan membeli 2 kotak kurma Mesir lagi. Aku mulai berfikir, betapa anehnya kakakku. Doni gila kakak dari Elli yang lebih gila... ya... entahlah!
Begitu kami keluar, kami tak menemukan sosok bu Ima lagi. Aku hanya tersenyum.
“Dasar mas gila!”
  

Takbir menggema lagi. Pagi telah tiba. Idul fitri semakin meriah. Suara petasan di mana-mana. Membuatku marah-marah.
“I..h! siapa sih nyalain petasan?! Awas kalau ketemu aku jadiin opor!”teriakku.
“Emang kamu bisa masak?” ledek kakakku. Aku manyun dan segera kembali ke kamar. Tepat saat itu, Handphoneku berdering.
“Halo? Claire?” tanyaku.
“Li! Minal Aidin wal Faizin ya...”terdengar suara dari seberang.
“Iya, sama-sama Claire...Minal Aidin wal faizin juga...”
“Eh, li, ada berita baru! Kamu inget Ibu Ima yang aku tunjukin ke kamu dulu?”
“Iya! Kenapa?” tanyaku heran.
“Bu Ima berubah total! Kalau hari raya yang lalu dia nutup pintu rumahnya rapat-rapat, tahun ini dia malah keliling ke rumah-rumah tetangga sambil bagi-bagi’in kurma gitu!”
“Hah? Terus... bu Ima bilang apa?”
“M... dia bilang sesuatu yang aneh dan aku yakin dia bo’ong... dia bilang kurma itu dari anaknya! Mas Zaky! Nggak mungkin banget kan? Orangnya aja udah meninggal!”
Aku tersenyum. “M... bukan bu Ima yang bo’ong, tapi masku...”
“Hah?” Claire heran. klik! Kuputuskan sambungan. Kubiarkan Claire terheran-heran.
“Masku emang gila! Tapi dia membuat perubahan besar pada bu Ima! Cuma gara-gara kurma Mesir! Hwahahaha!”
Everything in the heaven has been created by Allah. He is the khaliq. The Creator. If you look around you, you can see the beautiful about Allah has created. Sometimes, you can hear the winds expressing Allah. Can you hear them?




 SEKIAN 

,Yang merindukan bahana takbir,
Yang tertidur teriring bahana itu,
Yang terbawa suasana Idul Fitri
Indana Zulfa Sari.....